|
Sabtu, 20 Juni 2009 15:11 |
JAKARTA, KOMPAS.com — Dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet sehingga program buku sekolah elektronik dinilai tidak efektif. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh pengamat pendidikan Darmaningtyas, di Jakarta, Rabu (17/6). Menurutnya, minimnya jumlah sekolah yang bisa mengakses internet tersebut menunjukkan bahwa program dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) berupa Buku Sekolah Elektronik (BSE) atau e-book belum efektif. Jadi ada sekitar 17.500 sekolah yang tidak terakses internet, ujarnya. Bisa dibayangkan kalau download materi pelajaran di internet kemudian di-print out, biayanya jauh lebih mahal dari pada beli buku cetak, lanjutnya. Mendapati hal tersebut, Depdiknas kemudian menggandeng salah satu percetakan milik Jawa Pos Grup yakni PT Temprina Media Grafika untuk mencetak buku-buku elektronik secara massal. Hanya, lanjut dia, Depdiknas sendiri tidak mengalokasikan biaya distribusi. Alhasil, yang dihitung hanya biaya cetak, padahal ongkos distribusi ke sekolah-sekolah di Indonesia bagian timur sangat besar. Jadi wajar, jika kemudian pelaksanaan program itu tersendat, ujarnya. Menurutnya, yang harus diubah oleh Depdiknas adalah biaya distribusi sehingga orang-orang dari daerah yang ingin mencetak buku elektronik itu bisa langsung mendistribusikannya. Selain itu, kata dia, pemerintah baru menjalin kerja sama dengan PT Temprina Media Grafika saja. Sementara, dengan percetakan lainnya belum dilakukan. Tapi dugaan saya, perusahaan itu hanya mencetak untuk daerah-daerah di mana dia punya percetakan. Kalau seperti itu, bagaimana dengan daerah-daerah yang tidak punya percetakan dan bagaimana distribusinya jika harga buku dipatok Rp 10.000 per eksemplar, katanya. Untuk itu, kata dia, jika pemerintahan cerdas, maka tentunya akan bekerja sama dengan percetakan lokal agar distribusi buku-buku murah tersebut merata di semua daerah. Apalagi kalau pemerintah daerah (pemda) ikut mencetak dan mendistribusikannya, maka kemungkinan harga buku bisa ditekan. Tujuan dari e-book itu sendiri kan menekan harga buku di pasaran, katanya. LTF Sumber : Antara Sumber: Kompas.Com http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/06/17/ 19153198/Rendahnya.Akses.Internet..E-Book.Tak.Efektif. |
|
Jumat, 12 Juni 2009 05:35 |
|

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun
Telah berpulang ke Rahmatullah
Ayahanda dari Bpk. Drs. Iwan Supriadi
Di Kuningan, pada Jum'at 12 Juni 2009
Semoga Amal Ibadahnya diterima ALLAH SWT Amin.

- HUMAS SMAN 90 JAKARTA -
|
|
Ditulis oleh webmaster
|
|
Sabtu, 20 Desember 2008 00:21 |
|
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) meluncurkan program buku murah dengan nama Buku Sekolah Elektronik. Buku ini bisa dicetak sendiri dan diperbanyak karena hak ciptanya sudah dibayar Depdiknas. Peluncuran proggram ini dilakukan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di Jakarta hari ini. Perwakilan Disdik provinsi se-Indonesia turut hadir dalam peluncuran program Buku Sekolah Elektronik ini. Buku Elektronik atau buku murah ini merupakan buku dengan standar kelayakan yang direkomendasikan BNNP. Buku ini dalam bentuk cakram padat (CD) atau file yang bisa digandakan atau dicetak. Program buku murah elektronik ini sekaligus membuka peluang bisnis bagi siapa saja untuk menggandakan dan memperdagangkannya. Proyeksi keuntungan mencapai 15 persen dengan ketentuan yang diberikan Depdiknas. File Buku Sekolah Elektronik juga bisa diperoleh melalui internet di situs bse.depdiknas.go.id. Hingga saat ini sudah 49 judul buku pelajaran yang bisa diakses, yang terdiri dari pelajaran SD, SMP dan SMA. Program ini sekaligus mewujudkan keinginan banyak pihak tentang bukun pelajaran yang terjangkau. Sumber: www.metrotvnews.com |
|
|
|
|
|
|
Halaman 2 dari 3 |